Definisi!

Sebelum melangkah terlalu jauh, saya ingin memaparkan patokan kemiskinan yang dalam banyak tulisan akan saya coba angkat menjadi bagian-bagian terkecil dalam sudut pandang global SDGs. Istilah-istilah ini harus menjadi barometer pengetahuan bersama sehingga ‘frame’ berpikir akan selaras dan sejalan.

Olehnya itu, pada updetan #30hariberkarya sesi #day3 ini saya mencoba masuk kedalam pengertian apa itu kemiskinan.

Kemiskinan absolute atau destitusi adalah suatu kondisi yang langka akan kebutuhan dasar manusia, termasuk makanan, air minum bersih, fasilitas sanitasi, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, dan informasi.

Kemiskinan absolut atau biasa juga disebut kemiskinan ekstrem bergantung pada pendapatan dan ketersediaan kebuuthan dasar, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1995.

Kini, kemiskinan ekstrem mengacu pada pendapatan di bawah garis kemiskinan internasional $1,25/hari (nilai tahun 2005) menurut Bank Dunia.

Patokan ini setara dengan $1,00 per hari menurut nilai dolar A.S. tahun 1996.
96% masyarakat miskin ekstrem tinggal di Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara, Hindia Barat, Asia Timur dan Pasifik; hampir separuhnya terdapat di India dan Cina.

Pengentasan kemiskinan ekstrem dan kelaparan adalah Tujuan Pembangunan Milenium pertama (MDG1) yang disepakati oleh 189 negara anggota PBB tahun 2000.

MDG1 menargetkan penurunan tingkat kemiskinan ekstrem hingga separuhnya pada tahun 2015. Tujuan tersebut dicapai lima tahun lebih cepat. Masyarakat internasional, termasuk PBB, Bank Dunia, dan Amerika Serikat, menargetkan pengentasan kemiskinan ekstrem pada tahun 2030.

Semoga langkah kolaboratif yang digaungkan akan terus terjalin dengan baik. Sehingga apa yang telah dicanangkan bersama akan memberi warna baru bagi kehidupan masyarakat yang tingkat kehidupannya tergolong kedalam kelompok masyarakat dengan tingkat kemiskinan yang ekstrim tersebut.

Pemberdayaan Solusi Meningkatkan Taraf Hidup Masyarakat

Sebagai Laznas yang telah menetapkan program satu tahun kedepan yang akan fokus pada pemberdayaam, BMH dituntut untuk menghadirkan program-program keummatan yang lebih membumi. Olehnya itu, BMH sedari awal menyadari betul bahwa program ini sebagai manifestasi iman, maka program SDGs yang akan dijalankan mampu memberikan efek perbaikan kehidupan kepada para mustahik lebih nyata. Edukasi dan sosialisasi secara massif harus dimulai. Membangun kebersamaan di dalam mewujudkan program keumatan dan kebangsaan menjadi konsen bersama yang mesti disinergikan. Karena tidak mungkin satu lembaga mampu mengatasi segudang persoalan masyarakat. Langkah taktis kolaborasi menjadi sangat tepat dilakukan. Tanpa pemahaman bersama, pekerjaan besar yang butuh kolaborasi dan sinergi akan membutuhkan waktu lama untuk bisa diatasi dan disolusikan. Dalam rangka mewujudkan akselerasi tersebut, Laznas BMH Perwakilan Sulawesi Selatan menggelar Talkshow dengan tema “KolaborAksi Untuk SDGs” di Makassar (4/12). Acara ini menjadi ajang penjajakan dan sekaligus mapping bersama untuk saling mengenal dan bersinergi kedepan. Acara yang menghadirkan nara sumber dari beragam latar belakang itu sukses digelar dengan kesan acara yang sangat menggembirakan bagi para peserta yang berjumlah 50 orang relawan, dari 28 komunitas di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Hadir sebagai pembicara, Direktur Utama Laznas Baitul Maal Hidayatullah, Marwan Mujahidin, kemudian Duta ASEAN My World 2030, Hendriyadi Bahtiar, serta Relawan Anak dan Fasilitator Kelembagaan WASH-UNICEF, Andi Bunga Tongeng Anas. Marwan Mujahidin menjelaskan bahwa SDG’s merupakan guidance yang membantu banyak lembaga untuk berkontribusi aktif di dalam menanggulangi permasalahan nasional dan global. “SDGs merupakan panduan yang sangat membantu kita semua di dalam bergerak mengagendakan program pembangunan kini dan nanti,” tegasnya. Sementara itu, Hendriyadi Bahtiar mengatakan bahwa selama ini komunitas-komunitas relawan, cenderung masih bergerak sendiri-sendiri. Masih sangat sedikit yang memilih berkolaborasi. “Padahal, sekiranya gerak seluruh komunitas ini bisa dipadu-sinergikan, maka tentu dampaknya akan lebih dirasakan lagi,” jelasnya. Bagi Laznas BMH Perwakilan Sulawesi Selatan, ajang ini dinilai strategis untuk membangun masyarakat dan lingkungan Sulsel ke depan. “Acara ini digelar sebagai ikhtiar untuk membangun kolaborasi antar komunitas relawan di Sulawesi Selatan,” tutur GM BMH Sulawesi Selatan, Kadir. “Selain itu, kegiatan ini juga sekaligus menjadi sarana peningkatan kapasitas kerelawanan para peserta,” imbuhnya. Gelaran ini juga mendapat apresiasi dari Duta ASEAN My World 2030, Hendriyadi Bahtiar. “Kami sangat mengapresiasi BMH yang telah mendorong terlaksananya kegiatan ini.”pungkas beliau. Acara ini merupakan tindak lanjut dari agenda kerja BMH dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Surabaya, pada bulan Oktober lalu. Fokusnya akan menggarap program-program keummatan yang lebih strategis dan memberikan peluang perubahan kepada masyarakat.

 

  • #30hariberkarya #menulismenebarkebaikan #semuabisamenulis #day2

#30HariBerkarya

Terimakasih!

Sejak beberapa bulan ini mengalami ‘matisuri di Komunitas Penulis Online (KMO) yang digawangi Kang Tendi Murti, akibatnya ‘mood’ menulis terjun bebas. Sebab, tidak ada lagi ‘tantangan’ yang membuat kejar-kejaran dengan waktu untuk terus memberi semangat dan berbagi.

Selasa pagi kemarin saat scroll ditimeline Fb, ada status Teh Leny Puspadewi yang menggugah! Sontak saya berhenti dan membaca dengan seksama. Tiba-tiba ‘Meroket’ kembali semangat untuk segera gabung dan berbagi plus ingin ‘menaklukan’ tantangan #30hariberkarya para mentor. Langsung saya tinggalkan pesan dikolom komentar dengan harapan akan ada jawaban dari Teh Leny. Alhamdulillah, beberapa saat kemudian masuk jawaban dari beliau.

Sebagai ‘prasyarat’ bentuk komitmen agar dapat bergabung dalam komunitas #30hariberkarya saya harus melakukannya, Tapi tenang, syarat ini bukan menjadi ‘momok’ bagi kami semua. InsyaAllah, termasuk anda yang baca status ini bisa bergabung! Kami inginkan komitmen ini sebagai sarana’ melatih kedisiplinan menjalani #30hariberkarya. Toh, kalau pun gagal dalam 30 hari perdana, kami tetap bisa ulang untuk ‘memulai hitungan awal lagi’ setelah sehari tidak update. Semoga saya tidak mengalaminya dalam tahap awal ini ya? bantu do’a ya kawan-kawan!

Special thanks, dalam update perdana #30hariberkarya dalam edisi Jum’at Mubarok, saya sampaikan ucapan terimakasih yang tiada terhingga sekaligus meminta maaf sebesar-besarnya kepada para guru yang telah membimbing secara pribadi khususnya dalam dunia tulis-menulis, semoga amal baik dan dedikasih para guru ini Allah SWT tetapkan surga untuk balasan terbaik disisi-Nya kelak. Salam hangat buat para guru literasi, saya mohon izin untuk tag nama-nama yang sudah memberikan sumbangsih dalam usaha menggerakkan jari-jemari ini untuk merangkai kata-demi kata, mereka diantaranya;
– Kedua Orang Tua serta keluarga di Kampung Baru, Kec. Tinangkung Selatan, Kab. Banggai Kepulauan
– Istri dan Anak-Anak Tersayang Yang terus Memberi support
– Guru-Guru Saat SD, SMP, SMA
– Para Dosen di STIE Hidayatullah Depok, Jawa Barat
– Ust. Fauzil Adhim
– Ust. Mahladi Murni dan Ust. Saiful Hamiwanto Full
– Abang Jonriah Ukur
– Kang Tendi Murti dan sahabat-sahabat di Indonesia Menulis
– Sahabat-Sahabat Komunitas Menulis Online (KMO) Indonesia
– Mba Ima Yusrina
– Kang Dewa Eka Prayoga, si ‘Gendeng’, Maaf Muridnya belum bisa mengikuti ke’Gendengan’ gurunya, 😃😃😃🙏🙏🙏
– Suami Istri penulis Produktif Pak Isa Alamsyah dan Bunda Asmanadia
– Teh Indari Mastuti
– kawan-Kawan di BMH se Nusantara
– Abang Abu Ilmia
– Kawan-Kawan Redaktur di Hidayatullah.or.id
– Kawan-Kawan Reporter Daerah Hidayatullah.or.id
– Kawan-Kawan BMH Perwakilan Jateng
– Kawan-Kawan di RepublikaOnline
– Kawan-Kawan di Suaramerdeka.com dan suaramerdeka.co.id
– kawan-kawan di @rmoljateng
– Dan masih banyak lagi pihak-pihak yang punya peran besar mengantarkan saya melek dunia literasi. Sekali lagi, TERIMAKASIH!

Baik, Untuk tidak berpanjang lebar, pada #Day1 ini dalam bersamaan dengan Jum’at Mubarok, saya akan memulai menulis dengan tema

Pemberdayaan Berbasis SDGs dan IZN Dalam Memberikan Perubahan Nyata di Masyarakat

Goresan awal ini saya ingin mengangkat tentang sebuah gagasan yang pada tahun 2019 menjadi program unggulan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Program ini sudah menjadi kesepakatan dalam rapat kerja nasional BMH di Kota Pahlawan, pada tanggal 23-25 Oktober 2018.

” SDGs diharapkan dapat menanggulangi berbagai masalah global, termasuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan, memajukan kesehatan dan pendidikan, kemitraan untuk mencapai tujuan. Ini berarti, Zakat dan Laznas, dalam hal ini BMH juga dapat berkontribusi aktif untuk mewujudkannya. Dengan kata lain, Zakat adalah solusi bagi pembangunan Umat Islam dan umat manusia.” Jelas Ketua Umum BMH Pusat, Marwan Mujahidin, M. Sus.

Sejak diadopsi di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan September 2015, Indonesia telah mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sustainable Development Goals disingkat dengan SDGs adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi .

Tujuan ini dicanangkan bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030. Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti dari Tujuan Pembangunan Milenium yang ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin dari 189 negara sebagai Deklarasi Milenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015.

Agenda pembangunan berkelanjutan yang baru dibuat untuk menjawab tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata. Konsep Tujuan Pembangunan Berkelanjutan lahir pada Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB, Rio+20, pada 2012 dengan menetapkan rangkaian target yang bisa diaplikasikan secara universal serta dapat diukur dalam menyeimbangkan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan; (1) lingkungan, (2) sosial, dan (3) ekonomi.

Agenda 2030 terdiri dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SGDs) atau Tujuan Global, yang akan menjadi tuntunan kebijakan dan pendanaan untuk 15 tahun ke depan (2030).

Untuk mengubah tuntutan ini menjadi aksi nyata, para pemimpin dunia bertemu pada 25 September 2015, di Markas PBB di New York untuk memulai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030.

Tujuan ini diformulasikan sejak 19 Juli 2014 dan diajukan pada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa oleh Kelompok Kerja Terbuka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Dalam proposal ini terdapat 17 tujuan dengan 169 capaian yang meliputi masalah masalah pembangunan yang berkelanjutan. Termasuk didalamnya adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan, perbaikan kesehatan, dan pendidikan, pembangunan kota yang lebih berkelanjutan, mengatasi perubahan iklim, serta melindungi hutan dan laut.

Prinsip utama agenda pembangunan berkelanjutan adalah inklusi dan partisipasi. Selain konsultasi, berbagai platform dibutuhkan di tingkat nasional dan daerah yang akan mempertemukan pemerintah, penanam modal, perusahaan, filantropi, masyarakat madani, akademisi dan mendorong kemitraan nyata.

Kemitraan tersebut harus diperbaiki untuk memberi pengakuan terhadap kontribusi masing-masing aktor yang berbeda terhadap SDGs. Pengalaman dari Millennium Development Goals 2000-2015 telah menunjukkan bahwa kontribusi dari sektor swasta seringkali tidak ditangkap secara memadai oleh statistik pemerintah, yang biasanya berfokus pada program pemerintah.

Sementara filantropi dan organisasi masyarakat madani secara aktif terlibat dalam SDGs di Indonesia, semakin banyak yang harus dilakukan untuk melibatkan kaum muda. Dialog antara UNDP dan mahasiswa Universitas Gajah Mada dan Universitas Padjadjaran menunjukkan minat kaum muda untuk berperan aktif. Perguruan tinggi berperan penting untuk meningkatkan kesadaran di kalangan mahasiswa dan mendorong mereka untuk bertindak untuk pencapaian SDGs, dan lebih banyak mahasiswa diperlukan untuk memobilisasi kaum muda di seluruh Indonesia.

Saatnya lembaga Filantropi bermitra dengan kaum Milenial untuk berkarya nyata membangun Indonesia.

#30HariBerkarya
#menulismenebarkebaikan
#semuabisamenulis
#day1